Pagi
ini saat aku menyibukkan diriku di dalam kamarku. Suara itu terdengar jelas
memanggilku “da, sudah makan?” dengan sedikit rasa sedih aku menjawab “belum”
“ayah belikan makan ya” tangisku langsung pecah. Ya Allah, betapa jahatnya aku
yang tega melukai hati orangtuaku. Kenapa aku dengan teganya melukai perasaan
orang yang menyayangiku, memperhatikanku dan merawatku. Ya Allah, sampai 18
tahun ini apa yang sudah aku berikan pada mereka berdua?.
“Ayah Ibu, aku tak
tahu sudah berapa banyak kesalahan yang kubuat, sudah berapa banyak kebohongan
yang terucap, sudah berapa kata yang mengiris hati dan berapa banyak airmata
yang kalian teteskan. Sudah beberapa hari ini, aku resah memikirkan kesalahanku
pada kalian”.
“Ayah, maafkan
aku. Seharusnya anak sulungmu mampu menjadi kebanggaanmu. Seharusnya aku bisa
menjadi anak yang engkau harapkan. Seharusnya aku menghargai kerja kerasmu. Ayah,
walaupun kau selalu diam dan terlihat seperti tidak memperhatikanku, tapi aku
yakin kau begitu menyayangiku dan peduli padaku. Ayah, maaf telah membuatmu
memikul dosa yang diperbuat oleh anakmu. Seharusnya aku tahu, dosa yang
kuperbuat sebelum menikah adalah tanggunganmu. Maaf ayah, aku memberatkan
hidupmu”.
“Ibu, aku tidak
pernah bisa membayangkan bagaimana hariku tanpa dirimu. Diusiaku yang semakin
bertambah, aku belum sedikitpun memberikan kebahagiiaan untukmu. Ibu, maafkan
aku, seharusnya aku mampu menjadi penenang jiwamu. Bukan memberikanmu keluhan. Seharusnya
aku mampu membuatmu tersenyum. Bukan menyakitimu dengan tingkah laku dan
perkataanku. Diusiamu yang hampir setengah abad, engkau masih harus bekerja membantu
ayah untuk menambah ekonomi keluarga. Betapa berdosanya aku saat aku tidak
mematuhi perkataanmu. Ibu, maafkanlah anakmu. Maafkan aku ibu. Maafkan aku. Masih
adakah surga di telapak kakimu untukku?”.
“Ayah, Ibu maafkan
kesalahan anakmu. Aku akan berusaha menjadi anak yang baik untuk kalian. Ya
Allah ampunilah dosa mereka”.
01 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar