Kalo baca judul, pasti kesannya ngomongin soal pasangan -pacar,suami-, padahal ini enggak nyangkut masalah itu. Ini sih emang ngomongin masalah hati, tapi lebih tepatnya tentang 'home is where your heart is' gaya nih pakek bahasa inggris segala. Udah bisa dimulai kan ceritanya, oke lanjut. Selama kuliah di Surabaya yang pasti aku menghuni sebuah tempat yang dinamakan kos-kosan, yang pasti sih kos-kosan itu udah jadi rumah kedua bagiku. Selama jadi penghuni kos yang ababil, maklum selama ini aku gak pernah ngerasain yang namanya ngekos, banyak hal baru yang aku pelajari.
Cerita tentang kondisi kosku ya, kosku itu ada di lingkungan Jl. Karangmenjangan, sebuah rumah dua lantai yang mungkin di masa sekarang bisa dikatakan rumah minimalis 'rumahnya mungil banget-ciyus', tepatnya ya rumah itu diapit oleh rumah makan yang buka dari pukul 08.00 sampai pukul 23.00 di sebelah kanan dan disebelah kiri semacam basecampnya karyawan rumah makan. maklum rumah makannya udah banyak cabang jadi ya punya basecamp sendiri buat karyawan. Kosku berada dilantai dua, cukup sederhana, hanya ada tiga kamar 'masing-masing kamar berisi dua tempat tidur dan dua almari', satu kamar mandi, satu wc, satu ruang sholat, satu ruang tivi dan ruang cuci pastinya. Selama tinggal di kos, berasa kayak tinggal di kontrakan. Mau tau kenapa? karena lantai dua itu resmi jadi milik pengekos 'ibu kos sama bapak kos tinggal di lantai satu, sama dua anaknya'. Nah karena sudah jadi haknya pengekos, kami berenam 'temen kosku, mbak izza-temen sekamar, mbak ilmi, mbak dewi, mbak phito dan ayu-temen satu angkatan 2012' bikin peraturan soal kebersihan, makan, cuci di kos-kosan. Mulai dari bikin jadwal piket nyapu + ngepel, daftar beras dan peraturan lain soal cucian sepanjang masa 'semacam peraturan tentang berapa lama atau maksimalnya pakaian boleh dibiarkan di jemuran'.
Selanjutnya masalah makan, setiap hari itu kita berenam masak nasi 'tepatnya selalu dimasakin ayu *bighug for her* buat makan, lauknya tinggal beli di pasar karmen. Tiap beli lauk dipasar, kita gak pernah beli sendiri-sendiri-kecuali keadaan darurat- kita berenam hampir selalu jalan bersama buat beli makan dan itu terjadi untuk makan pagi, siang dan sore. Senengnya lagi, kita selalu makan bersama. Berasa banget deh punya keluara, walauoun harus jauh dari orangtua. Alhamdulillah, walopun ngekos gizi selalu tercukupi. Kosanku yang sederhana itu punya satu kelebihan yaitu 'free wifi' dan inilah yang bikin aku betah berjam-jam berada di kamar. Masih banyak sih yang mau aku share soal kos-kosan, masalahnya tugas lagi numpuk berro, pada ngamuk minta cepet diselesein. Oke, aku ada utang buat cerita soal temen kosan dan kebiasaannya. See yaa reader ({})
Surabaya, 19 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar